Senin, 23 Desember 2013

TULISAN 13


OJK Masih Khawatirkan Empat Hal Ini

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad menyebutkan, terdapat empat aspek yang akan menjadi faktor keberhasilan maupun kegagalan OJK dalam menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan perbankan ke depannya.
“Transisi dari BI (Bank Indonesia) ke OJK akan sukses ditentukan oleh empat aspek. Pertama, perlu ada kejelasan pembagian pekerjaan makroprudensial (BI) dan mikroprudensial (OJK)," tuturnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (17/12/2013).
Untuk itu, dirinya berharap ada kejelasan mengenai pembagian tugas sehingga tidak terjadi tumpang tindih kebijakan dalam proses ke depannya. "Pelaksanaannya nanti bisa terjadi persinggungan-persinggungan, untuk itu perlu kejelasan bagaimana makroprudensial dan mikroprudensial bisa disiapkan dengan baik," jelasnya Muliaman.
Lebih lanjut dia menuturkan, faktor kedua terkait dengan pertukaran informasi antara BI dan OJK. Menurut dia pihaknya tidak bisa menahan fungsi moneter BI yang membutuhkan informasi dan data terkait perbankan nasional. Sehingga perlu diatur jaminan kerahasiaannya.
“Yang ketiga adalah aspek pemanfaatan aset-aset BI oleh OJK. Kami masih membutuhkan banyak dukungan dari BI ke depannya terkait hal ini," paparnya.
Faktor terakhir, tambahnya, adalah bahwa OJK juga masih membutuhkan dukungan tenaga ahli dan tekni audit dari pihak Bank Indonesia (BI) untuk proses audit dan pengawasan OJK nanti. (wdiOkezone)

ANALISIS :
Perlu ada kejelasan pembagian pekerjaan makroprudensial (BI) dan mikroprudensial (OJK). Sebaiknya ada kejelasan mengenai pembagian tugas sehingga tidak terjadi tumpang tindih kebijakan dalam proses ke depannya. BI dan OJK adalah lembaga pemerintah yang saling berhubungan, untuk mendukung keberhasilan kedua lembaga tersebut maka perlu adanya kerjasama yang baik antara kedua lembaga tersebut.

SUMBER :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar