OJK Masih Khawatirkan Empat Hal Ini
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa
Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad menyebutkan, terdapat empat aspek yang akan
menjadi faktor keberhasilan maupun kegagalan OJK dalam menjalankan fungsi
pengaturan dan pengawasan perbankan ke depannya.
“Transisi dari BI (Bank Indonesia) ke
OJK akan sukses ditentukan oleh empat aspek. Pertama, perlu ada kejelasan
pembagian pekerjaan makroprudensial (BI) dan mikroprudensial (OJK),"
tuturnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI di Gedung
Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (17/12/2013).
Untuk itu, dirinya berharap ada
kejelasan mengenai pembagian tugas sehingga tidak terjadi tumpang tindih
kebijakan dalam proses ke depannya. "Pelaksanaannya nanti bisa terjadi
persinggungan-persinggungan, untuk itu perlu kejelasan bagaimana
makroprudensial dan mikroprudensial bisa disiapkan dengan baik," jelasnya
Muliaman.
Lebih lanjut dia menuturkan, faktor
kedua terkait dengan pertukaran informasi antara BI dan OJK. Menurut dia
pihaknya tidak bisa menahan fungsi moneter BI yang membutuhkan informasi dan
data terkait perbankan nasional. Sehingga perlu diatur jaminan kerahasiaannya.
“Yang ketiga adalah aspek pemanfaatan
aset-aset BI oleh OJK. Kami masih membutuhkan banyak dukungan dari BI ke
depannya terkait hal ini," paparnya.
Faktor terakhir, tambahnya, adalah
bahwa OJK juga masih membutuhkan dukungan tenaga ahli dan tekni audit dari
pihak Bank Indonesia (BI) untuk proses audit dan pengawasan OJK nanti. (wdiOkezone)
ANALISIS :
Perlu ada kejelasan pembagian
pekerjaan makroprudensial (BI) dan mikroprudensial (OJK). Sebaiknya ada
kejelasan mengenai pembagian tugas sehingga tidak terjadi tumpang tindih kebijakan
dalam proses ke depannya. BI dan OJK adalah lembaga pemerintah yang saling
berhubungan, untuk mendukung keberhasilan kedua lembaga tersebut maka perlu
adanya kerjasama yang baik antara kedua lembaga tersebut.
SUMBER :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar